Siang itu wajah Ali bin Abi Thalib
berbinar-binar. Senyumnya merekah. Hatinya semakin mantap untuk
menghadap Rasulullah saw. Dirinya sudah bulat untuk memetik bunga dakwah
Rasulullah, Alipun berkata, “Ya Rasulullah, perkenankan aku menjadi
pendamping dakwah putrimu.” Sambil tersenyum Rasulullah menjawab,
“Engkau akan memberi Fatimah mahar apa?” Wajah Ali bin Abi Thalib
mendadak pucat. Ia tidak menduga Nabi saw bertanya seperti itu. Beberapa
saat ia terdiam. Memandang wajah teduh Rasulullahpun tidak mampu ia
lakukan.
Melihat Ali bin Abi Thalib tak menjawab
sepatah katapun, Rasulullah kemudian bertanya, Wahai Ali, masih ingatkah
engkau dengan baju yang pernah kuberikan padamu?” Dengan penuh heran
Ali menjawab, “Masih ku simpan rapi di rumahku, wahai Rasullullah.
Memangnya ada apa?” Rasulullah meneruskan pertanyaannya, “Bagaimana
kalau engkau jadikan baju besi itu sebagai mahar untuk putriku?”
Mendengar kalimat tanya itu, wajah Ali kembali berbinar. “Ya Rasulullah,
tidak ada lagi yang kumilliki untuk maharku selain baju besi itu,”
Jawab Ali tersipu malu.





