Kegelisahan melanda sebagian besar pemuka Quraisy.
Gurat wajah mereka mengeras penuh beban. Kabar angin bahwa beberapa
penduduk Yatsrib telah masuk Islam dan siap menampung kaum muslimin
membuat mereka tak bisa lagi terlelap. Belum lagi saat Rasulullah SAW
benar-benar menyuruh kaum muslimin untuk berhijrah ke negeri impian itu,
mereka pun meningkatkan siksaan pada kaum muslimin yang tersisa di
tanah suci. Berbondong-bondong, pelan namun pasti, kaum muslimin
berhijrah dari Mekah ke Yatsrib dengan sembunyi-sembunyi. Dan pasukan
Quraisy pun semakin meningkatkan penjagaan batas kotanya.
Kegelisahan
itu tak terbendung lagi saat Umar bin Khattab mendeklarasikan niatnya
untuk berhijrah. Pemuda pemberani itu membawa pedang yang siap
dihunuskan setiap saat, lalu shalat dan thawaf sejenak di Baitullah,
sementara seluruh mata Quraisy tajam tertuju pada sosok tinggi besar
itu. Usai thawaf, Umar naik ke atas bukit memandang sekeliling dengan
pandangan yang teguh nan angkuh. Ia berseru lantang menciutkan hati
kafir Quraisy. Ucapannya yang begitu tegas terpampang dalam sejarah
orang-orang pemberani: “Barang siapa yang menginginkan istrinya menjadi
janda, atau anaknya menjadi yatim, maka temui aku dibalik bukit ini!!!
“. Ucapan yang tajam bak pedang terhunus. Menginjak-injak kesombongan
dan harga diri kafir Quraisy. Tidak pernah terlintas dalam pikiran
mereka, bahwa sosok Umar kini benar-benar menantang keberanian mereka.





