Selasa, 18 September 2012

Rekaman KPI Ungkap Nara Sumber Sebut Rohis di Metro TV

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah memanggil pihak Metro TV terkait acara dialog 'Awas Generasi Baru Teroris' pada Sabtu (15/9) lalu. Metro TV memenuhi panggilan tersebut dan menemui KPI pada Senin (17/9) sekitar pukul 12.00 WIB.

Koordinator Bidang Isi Siaran KPI, Nina Mutmainnah memaparkan dalam pertemuan tersebut, pihak Metro TV memberikan klarifikasi terkait isi acara dialog tersebut. Pihak Metro TV juga memberikan rekaman tayangan serta transkripnya dalam acara tersebut.

Dalam klarifikasinya, ia menambahkan,pihak Metro TV mengaku dalam acara tersebut tidak menyebutkan organisasi Rohis. Akan tetapi, hal ini berbeda dengan rekaman yang dimiliki KPI yang menunjukkan adanya penyebutan Rohis yang diucapkan salah seorang narasumber.

"Kalau kata Rohis, ada (dalam rekaman milik KPI) yang diucapkan narasumber," kata Nina Mutmainnah yang dihubungi Republika pada Senin (17/9).

Arogansi MetroTv Terhadap Presenter Berjilbab


(Curhat dari seorang Sandrina Malakiano dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah)

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah 
yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa ” sebagaimana Islam mengajarkan ” di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.


Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.

Minggu, 16 September 2012

Rohis Membina Generasi Berkualitas

Kita menyadari bahwa penerimaan masyarakat sangat minim terhadap ajaran Islam yang benar. Muslim berjenggot dicap sebagai pengikut aliran sesat. Muslimah berjilbab lebar dipandang sebelah mata. Sedangkan wanita yang memakai rok pendek dianggap lumrah dan wajar. Ironis sekali. Persepsi masyarakat yang salah disebabkan rendahnya pemahaman ilmu agama Islam yang benar. Mereka belum bisa membedakan benar dan salah. Ibadah yang mereka lakukan selama ini pun mungkin hanya meniru kebiasaan turun-temurun dari moyang, tanpa mengerti esensi ibadah sesungguhnya. Tragis. Sesuatu yang benar dianggap tabu. Sedangkan persepsi dan tindakan salah tetap dilestarikan. 

Salah satu cara meluruskan pemahaman keliru terhadap ajaran agama dengan berdakwah. Bisa dimulai di lembaga-lembaga pendidikan. Rohis atau Rohaniawan Islam mulai menjamur di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi sebagai kegiatan ekstra agama. Melalui Rohis, siswa dan mahasiswa digembleng menjadi pribadi berimtaq, intelek serta bermutu. Banyak juga kegiatan sosial yang diselenggarakan Rohis sekolah dan kampus sehingga sensitivitas dan kepedulian mereka terhadap problem sesama pun meningkat. 

Konspirasi Metro Tv

Edy A Affendi
 @eae18
 Mantan Wartawan & Penulis Editorial Media Indonesia

1. Ini terkait berita Metro TV yg menyudutkan sekolah umum jd sarang teroris. media hrs obyektif. itu hak publik.

2. sdh untuk kesekian kali @Metro_TV n Media Indonesia menyudutkan Islam. Sdh berkali2 juga disomasi n diprotes tp tak kapok.

3. bnyk berita yg diprotes n disomasi tp mrk bergeming. Sy akan paparkan bebrapa fakta bkn krn sy benci agama lain.

4. bg sy agama adlh hak individu.sy hny ingin melihat media massa jgn jd alat menikam agama lain. hrs dibebaskan..

5. ..media massa hrs dibebaskan dr kepentingan agama. media massa bertugas mereportase isu warga. bkn mendistorsi.

6. pada era 2000-an, di mana sy bekerja di Media Indonesia, ada empat sekawan yg berperan dlm soal isu agama.

Jumat, 07 September 2012

Peduli Perubahan Lingkungan

Dinamika lingkungan strategis baik dalam skala internasional, regional maupun nasional dan lokal, selalu membawa implikasi –baik positif maupun negatif– yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap gerakan dakwah. Implikasi positif membawa manfaat dalam mendukung tercapainya tujuan dan kepentingan dakwah, sedangkan implikasi negatif berupa meningkatnya potensi ancaman bagi dakwah.

Situasi dan kecenderungan lingkungan strategis pada awal abad 21 sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan periode satu dekade terakhir dalam abad 20. Situasi politik internasional saat ini –selain masih diwarnai oleh permasalahan lama yang belum berhasil diatasi—menjadi semakin bertambah kompleks dengan hadirnya serangkaian masalah baru. Di samping itu, kecenderungan lingkungan strategis sulit diperkirakan karena ketidakteraturan dan ketidakstabilan semakin menjadi corak dominan[1].

Larangan Isbal, Melabuhkan Pakaian Hingga Menutup Mata Kaki


Oleh
Abu Abdillah Ibnu Luqman

Isbal artinya melabuhkan pakaian hingga menutupi mata kaki, dan hal ini terlarang secara tegas baik karena sombong maupun tidak. Larangan isbal bagi laki-laki telah dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat banyak, maka selayaknya bagi seorang muslim yang telah ridho Islam sebagai agamanya untuk menjauhi hal ini. Namun ada sebagian kalangan yang dianggap berilmu, menolak (larangan) isbal dengan alasan yang rapuh seperti klaim mereka kalau tidak sombong maka dibolehkan?! Untuk
lebih jelasnya, berikut kami paparkan perkara yang sebenarnya tentang isbal agar menjadi pelita bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Amin. Wallahul Musta’an.

[A]. DEFINISI ISBAL
Isbal secara bahasa adalah masdar dari “asbala”, “yusbilu-isbaalan”, yang bermakna “irkhaa-an”, yang artinya; menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul ‘Aroby rahimahullah dan selainnya adalah ; memanjangkan, melabuhkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak. [Lihat Lisanul 'Arob, Ibnul Munzhir 11/321, Nihayah Fi Gharibil Hadits, Ibnul Atsir 2/339]