Ketika perjumpaan pertama kita, Awalnya biasa saja. Tak ada perasaan khusus dariku untukmu. Semuanya tampak biasa…
Kecuali senyum tulus yang engkau sunggingkan
kepadaku, jabatan erat tangan darimu, serta pelukan bersahabat yang
kudapatkan untuk pertama kalinya ketika kumelangkahkan kaki di tempat
yang serba asing di kala itu, namun ditakdirkan sebagai bagian dari masa
depanku.
Sungguh…semua membuatku merinding, merasa diistimewakan… Oh Tuhan, Bidadari itu telah menyapaku, membimbing tanganku tuk melangkah di jalanMu. Ajakan-ajakan tulus nan mulia telah mengantarkanku menjadi Mutarrabimu…
Merintis langkah-langkah ke syurga yang tak
pernah terbersit lama di khayalanku. Khayalan kanak-kanakku yang masih
tak memahami bahwa setelah hidup pasti akan ada mati, bahwa hidup ini
bukan hanya deretan kejadian kosong tanpa maknawiyah Ketauhidan di
dalamnya, bahwa kehidupan sebenarnya adalah kelak ketika semuanya tak di perdulikan lagi kecuali amalan-amalan kita di dunia.




