Kamis, 05 Juli 2012

Ngelamunin Bidadari

Mereka bukanlah gadis-gadis lugu seperti yang ada di iklan parfum bermerek Axe. Jatuh dari langit. Tepat di tengah hiruk-pikuk keramaian kota. Warga yang melihatnya serta-merta menatapnya dengan tatapan teraneh sepanjang sejarah. Kakek-kakek yang sudah rempong pun digambarkan seolah menjadi muda kembali semangatnya tatkala ianya menatap rupa sang bidadari. Apa yang menjadi penyebabnya? Penyebabnya adalah karena ada seorang pemuda dari alam manusia yang menggunakan parfum bermerek Axe. Tidak sekedar satu bidadari, yang lainnya pun juga ada; dialah yang terjun bebas menimpa atap rumah sang pemuda. Bulu dari sayap sang bidadari pun berhamburan ke sana ke mari. Sementara sang pemuda hanya bisa celingak-celinguksembari mengarahkan matanya ke berbagai penjuru atap rumahnya.

Bukan! Bukan yang itu! Mereka bukan seperti itu! Itu adalah kegagalan imajinasi sang sutradara pembuat iklan. Atau bisa jadi sumber inspirasi yang menjadikan sang sutradara kepikiran membuat iklan macam itu juga salah (sudah salah, tidak benar, dan bahkan menyesatkan). Bidadari-bidadari dibuat kelepekan oleh seorang pemuda bumi? Hanya karena sebuah parfum yang wanginya semerbak? Ahahaha, bidadari macam apa itu?

Mereka bukan pula perempuan berlembut hati yang ada di sinetron Bidadari. Perempuan bersayap putih, berpakaian serba putih, berwajah cantik, memegang sebuah tongkat ajaib, dan selalu datang untuk meredakan kesedihan sang Lala (anak perempuan kecil yang digambarkan memiliki karakter baik hati, tapi mempunyai teman jahat yang senantiasa menyakitinya). Jika Lala sedang sedih, maka bunda Bidadari pun akan datang menghibur Lala. Jika Lala disakiti oleh teman jahatnya, maka bunda Bidadari pun akan datang dengan tongkat ajaibnya. Bim salabim! Maka, celana si jahat pun seketika melorot.

Di akhir kisah, bunda Bidadari akan berujar seperti ini kepada para penonton ciliknya; Ade-ade yang baik hati, jangan nakal ya… bla… bla… bla…”. Namun sayang, yang sampai pada pemikiran sang penonton cilik bukanlah nasihat yang baik itu. Tapi kesimpulan yang menggelikan berikut ini: Ooo… berarti celana si Udin yang kemarin melorot tiba-tiba itu, pasti di-bimsalabim-i oleh bunda Bidadari. Si Udin kan anaknya nakal. Padahal yang benar adalah, karena kancing celananya Udin memang copot.

Bukan! Bukan yang ini juga! Ini adalah pembodohan kewarasan akal anak manusia. Bidadari datang untuk meredakan kesedihan seorang anak perempuan? Ahahaha, bidan dari Hongkong itu mah, bukan bidadari.
Mereka bukan pula gadis manis yang turun di ujung semburat sebuah pelangi. Turun ke bumi dengan maksud hendak berenang ria di sebuah sungai yang ada di bumi. Di balik semak-semak yang ada di pinggiran sungai tempat mandinya itu, berdenguslah napas seorang pemuda yang sedang menilisiki kejelitaannya. Sang pemuda punya niatan yang durjana; dia hendak mencuri pakaian sang bidadari.  Berharap sang bidadari tidak akan bisa pulang ke tempat asalnya karena pakaiannya raib digondol sang pemuda. Setelah itu, si pemuda akan datang layaknya seorang pahlawan. Menemui sang bidadari yang sedang kesedihan, lalu membawanya pulang ke rumah si pemuda. Lantas si pemuda pun menjadikannya seorang istri di kemudian hari.

Bukan! Bukan yang ini juga! Itu hanya kisah lumutan yang tidak masuk di akal. Bidadari mandi di sungai. Bajunya hilang digondol seorang pemuda semprul. Tak bisa pulang ke tempat asalnya, lalu jadilah ia penduduk bumi karena dinikahi oleh si semprul. Ahahaha, lelucon kacangan macam apa lagi ini?
---------------------------------------------------------****------------------------------------
Bidadari adalah makhluk Allah Ta’ala yang tidaklah memiliki kekuatan super. Mereka juga bukan problem solver bagi masalah yang sedang dihadapi manusia di alam dunia. Bidadari adalah penghuni surga yang nantinya bakalan dijadikan Allah Ta’ala sebagai istri-istri dari kaum mukminin. Kaum mukminin seperti apa? Bukan mereka yang memakai parfum Axe tapi tak shalih. Tak pula bagi mereka yang tak punya ketulusan dalam berjuang di jalan Allah Ta’ala. Bidadari akan dipersembahkan bagi mereka yang selama hidupnya senantiasa mengabdi dengan tulus dan penuh cinta kepada Allah Ta’ala.

Mereka diperuntukkan bagi para mujahid yang tangguh di medan perjuangan dalam penegakan kalimatullah. Prajurit yang tangguh hingga gelar syuhada dapat disandangnya. Mereka–para bidadari–sedang merenda kerinduan di surga. Kerinduan terhadap para syuhada yang gugur di medan jihad.
Syahid di jalan Allah Ta’ala akan berhadiah bidadari di surga kelak. Ini adalah alasan kenapa sosok bidadari itu menjadi begitu istimewa. Lha wong untuk dapat meminangnya saja harus bergelar syuhada dulu je; harus mati syahid di jalan Allah Ta’ala dulu. Inilah mahar termahal agar seorang pemuda bumi dapat mempersunting bidadari di surga kelak.

Bidadari adalah simbol keindahan paripurna dari ciptaan Allah Ta’ala. Tanpa cacat dan juga cela. Mereka senantiasa menundukkan pandangannya karena sifat pemalu yang dimilikinya. Pandangan mereka hanya terfokus kepada suaminya masing-masing. Tak sedikit pun mereka tertarik kepada seorang pria selain suami mereka. Kecantikan mereka tak akan pernah sebanding dengan perempuan mana pun di dunia. Sekiranya (sekiranya lho, karena pada kenyataannya bidadari tidak pernah turun ke bumi) salah seorang dari mereka turun ke bumi, pasti ia akan menyinari langit dan bumi. Lalu memenuhi kawasan antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Itulah mereka; bidadari surga.

Namun, tahu kah engkau kawan? Ternyata, bidadari yang ada di surga itu juga mempunyai para penghulu, pemimpin, dan tokoh-tokoh yang kemuliaannya melebihi mereka di hadapan Allah Ta’ala. Siapakan para penghulu itu? Siapakah para pemimpin itu? Siapakah para tokoh yang lebih mulia di hadapan Allah itu kawan? Mereka adalah manusia penghuni bumi bernama perempuan. Perempuan yang seperti apa? Perempuan yang beriman kepada Allah Ta’ala, dengan cinta dan ketaatan. Kelak, tutup kepalanya saja bahkan akan lebih mulia daripada bumi dan seisinya sekalipun.

Perempuan yang beriman kepada Allah Ta’ala dengan cinta dan ketaatan. Merekalah perempuan yang lebih mulia daripada para bidadari surga. Seperti istri Fir’aun yang tersenyum di akhir hayatnya, meskipun siksaan fisik mendera tubuhnya. Yang menjadi penyebabnya adalah karena keimanannya yang tulus terhadap kerasulan Musa dan juga ketuhanan Allah Sang Penguasa Semesta. Untuknya, Allah Ta’ala pun menghadiahkan rumah di surga. Rumah macam apa? Yang jelas rumah itu adalah rumah yang tak pernah bakalan dilihat seorang manusia pun di dunia.

Seperti bunda Khadijah yang telah dijanjikan untuknya rumah cahaya di surga. Penyebabnya apa? Karena ianya adalah perempuan yang memiliki keimanan yang tulus terhadap kerasulan Muhammad Saw. dan juga ke-illah-an Allah Sang Penguasa Semesta. Bahkan sejarah pun mencatat, ianya adalah manusia beriman pertama terhadap Rasulullah Saw. dari kalangan perempuan. Kedudukan bunda Khadijah di hati Rasulullah tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Rumah cahaya di surga adalah hadiah terindah baginya. Penghulu para bidadari adalah kedudukan termulia untuknya.

Itulah mereka; sosok perempuan surga yang pada awalnya adalah perempuan penghuni alam dunia. Subhanallah.
Allahu Ta’ala a’lam.
Rujukan:

Rasulullah Saw. bersabda, “Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi Saw. bersabda, “Rombongan yang pertama masuk surga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkemilau di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam surga nanti tidak ada bujangan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Di dalam surga, terdapat bidadari-bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. Ar-Rahman: 56-58).

“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” (Qs. Ash-Shaffat: 48).

Dari Abu Ra., mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh pikiran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar