Jumat, 04 Mei 2012

Maukah Engkau Menikahi Putriku?

Siang itu wajah Ali bin Abi Thalib berbinar-binar. Senyumnya merekah. Hatinya semakin mantap untuk menghadap Rasulullah saw. Dirinya sudah bulat untuk memetik bunga dakwah Rasulullah, Alipun berkata, “Ya Rasulullah, perkenankan aku menjadi pendamping dakwah putrimu.” Sambil tersenyum Rasulullah menjawab, “Engkau akan memberi Fatimah mahar apa?” Wajah Ali bin Abi Thalib mendadak pucat. Ia tidak menduga Nabi saw bertanya seperti itu. Beberapa saat ia terdiam. Memandang wajah teduh Rasulullahpun tidak mampu ia lakukan.

Melihat Ali bin Abi Thalib tak menjawab sepatah katapun, Rasulullah kemudian bertanya, Wahai Ali, masih ingatkah engkau dengan baju yang pernah kuberikan padamu?” Dengan penuh heran Ali menjawab, “Masih ku simpan rapi di rumahku, wahai Rasullullah. Memangnya ada apa?” Rasulullah meneruskan pertanyaannya, “Bagaimana kalau engkau jadikan baju besi itu sebagai mahar untuk putriku?” Mendengar kalimat tanya itu, wajah Ali kembali berbinar. “Ya Rasulullah, tidak ada lagi yang kumilliki untuk maharku selain baju besi itu,” Jawab Ali tersipu malu.


Akhirnya lelaki religius itu sukses memetik bunga dakwah Rasulullah dengan mahar baju besi pemberian Rasulullah, mertua tercinta. Saat malam tiba, sebelum menemui belahan hati, Ali menemui Rasullullah. “Ya Rasulullah, sekarang apa yang harus aku lakukan?” Rasulullah menjawab, “Fatimah sudah menjadi milikmu. Pergauli dia seindah mungkin.”

Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib dan Fatimah telah menjadi model yang amat indah buat kita yang mendamba keluarga sakinah. Mereka bertiga telah menyingkap tabir untuk kita yang ingin merengkuh cintaNya. Keluarga mereka menjadikan ibadah dan dakwah sebagai penglima hidup, bukan dinar, emas ataupun perak. Ali bin Abi Thalib lebih dikenal sebagai ahli agama bukan pedagang. Ali juga lebih dikenal sebagai ahli ibadah, bukan konglomerat. Ia adalah petarung ulung, bukan pebisnis sukses. Namun Rasulullah memilih Ali menjadi pendamping putrinya, bukan sahabat yang lain.

Kita yakin bahwa ada sejuta makna di setiap ucapan dan perbuatan Rasulullah saw. Begitu pula pasti ada banyak makna di balik keputusan Rasulullah menjadikan Ali menjadi pendamping putrinya. Metode pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia Rasulullah saw yang amat luar biasa telah menjadikan para sahabatberada pada level iman dan spiritualitas yang sama, termasuk Ali bin Abi Thalib. Hanya saja Ali memiliki kelebihan yang sesuai dengan kebutuhan putri beliau. Fatimah juga memiliki kelebiihan yang amat diperlukan oleh Ali. Dan Rasulullah saw tentunya amat mengetahui jika keduanya membangun mahligai rumah tangga, akan memproduksi banyak keindahan bagi sesama.

Saya memohon kepadanya agar bisa bertemu lelaki religius seperti Ali bin Abi Thalib. Kelak saat berjumpa, saya akan menawarkan kepadanya, “Maukah engkau menikahi putriku? Hatinya lebih lembut daripada sutra. Jarak dirinya dengan kemaksiatan lebih jauh dibanding jarak matahari dengan bumi. Saya amat berharap engkau dengan putriku akan melahirkan Raihanun min Raihanatil Jannah (taman di antara taman-taman surga) sebagaimana Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra melahirkan Hasan dan Husain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar