Allah berfirman :
لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ“
Kamu sekali-kali
tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan
sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya “ ( Al Baqarah : 93 )
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari ayat di atas, diantaranya adalah :
( 1 ) TEORI KEKEKALAN ENERGI
Pada ayat di atas, Allah swt meletakkan suatu kaidah yang
sangat penting sekali di dalam kehidupan manusia. Kaidah tersebut adalah
“ bahwa manusia ini tidak akan mendapatkan kebahagian dan
keberhasilan di dalam kehidupannya baik sewaktu di dunia ini maupun di
akherat nanti, kecuali jika ia mau mengorbankan apa yang dicintainya
demi kehidupan manusia itu sendiri. “
Hal itu sangat terlihat jelas pada ayat di atas. Kita
dapatkan di dalamnya, bahwa Allah swt memberikan syarat bagi setiap
manusia yang ingin mendapatkan kebaikan -dan tentunya keberhasilan –
untuk terlebih dahulu memberikan kepada orang lain sesuatu yang
dicintainya, yang kemudian kita kenal dengan istilah infak dan sedekah.
Infak dan sedekah ini benar-benar mempunyai pengaruh yang sangat
signifikan atau bahkan sangat dahsyat di dalam kehidupan manusia ini.
Tidak ada seorang-pun di dunia yang berhasil dalam bidang apapun juga,
kecuali dia telah mengorbankan apa yang dicintainya demi mencapai sebuah
cita-cita yang diidam-idamkannya. Teori atau kaidah yang diletakkan
Allah tersebut, pada akhir-akhir ini ternyata mendapatkan sambutan yang
begitu hebat dari kalangan para pakar psikologi dan orang-orang yang
bergelut di dalam management dan pengolahan SDM ( Sumber Daya Manusia ) .
Mereka menyebut kaidah ini dengan « Teori Kekekalan Energi « . Mereka
percaya bahwa energi atau amal perbuatan baik yang dikerjakan manusia
tidak hilang dari alam ini, akan tetapi berubah bentuk [1].
Lihat umpamanya apa yang dinyatakan oleh John F. Kennedy (
1961 ) : “ Apabila suatu masyarakat-bebas tidak dapat membantu banyak
orang yang miskin, masyarakat tersebut akan gagal menyelamatkan sedikit
orang kaya “ [2]
Perkembangan tersebut semakin membuktikan akan kebenaran Al
Qur’an ini dan bahwa Al Qur’an ini adalah solusi alternatif di dalam
mengentas problematika-problematika kehidupan manusia.
( 2 ) ANTARA IMSAK DAN INFAK
Berkata Hasan Basri : “ Sesungguhnya kalian tidak akan bisa
meraih apa yang anda inginkan kecuali kalau kalian mampu meninggalkan
sesuatu yang menyenangkan , dan kalian tidak akan mendapatkan apa yang
kalian cita-citakan kecuali dengan bersabar dengan sesuatu yang
kaliantidak senangi “ [3]
Perkataan Hasan Basri di atas telah memberikan isyarat bagi
kita tentang tata cara menapak tangga-tangga prestasi. Beliau memberikan
dua jalan untuk mencapai sebuah prestasi yaitu dengan : Imsak ( Menahan Diri dari hal-hal yang melalaikan ) dan Infak ( Mengorbankan/ menginfakkan apa yang dicintainya ) .
Untuk Infak telah disebutkan pada ayat 9 dari Surat Ali Imran di atas. Adapun Imsak disebutkan Allah pada ayat lain, yaitu dalam surat Al Nazi’at, ayat : 37- 41 : «
Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan
dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun
orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya (
Al Nazi’at, ayat : 37- 41 «)
SYAREAT BANI ISRAIL DAN SYAREAT ISLAM
Dari sisi pembinaan yang tersirat dari ayat di atas adalah :
seseorang hendaknya membiasakan diri untuk meninggalkan sesuatu yang ia
cintai, sekaligus untuk memberikannya kepada yang lebih membutuhkan.
Selain bermanfaat bagi dirinya sendiri, karena jiwanya menjadi bersih,
begitu juga bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Hal ini berbeda
dengan apa yang terjadi pada umat Bani Israel, jika mereka diperintahkan
untuk meninggalkan sesuatu yang mereka cintai, mereka hanya
meninggalkannya begitu saja, tanpa diiringi perintah untuk memberikannya
kepada orang lain. Dari sini, bisa diketahui betapa lengkap dan
mulianya ajaran Islam yang kita yakini ini. [4].
(3 ) ARTI “ AL BIRR ‘ PADA AYAT DI ATAS
Diantara arti « Al Birr « yang disebutkan para ulama adalah :
- Pahala dari Allah swt .
- Syurga . [5
- Amal Sholeh , dalam suatu hadits disebutkan : « Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membawa kalian kepada ( Al Birr ) - yaitu amal sholeh - Sedangkan Al Birr ( amal sholeh ) tersebut akan mengantarkan kalian kepada syurga . «
- Ketaqwaan dan Ketaatan . [6]
- Tingkatan amal sholeh yang paling tinggi [7]
- Diantara para ulama ada yang membedakan antara ( Al Birr) dengan ( Al Khoir ) , kalau Al Birri adalah segala sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi orang lain , sedangkan Al Khoir adalah seluruh kebaikan. [8]
Dari situ bisa diambil kesimpulan bahwa « Al Birr « segala
sesuatu yang mengantarkan seseorang kepada kebaikan dan syurga. Dengan
demikian ayat tersebut bisa diartikan : « Bahwa kalian semua tidak akan
mendapatkan ketenangan, ketentraman ,kebaikan, kebahagian di dunia dan
akherat kecuali dengan menginfakkan apa yang kalian cintai di jalan
Allah swt.
( 4 ) SEDEKAH MELIPUTI SELURUH AMAL SHOLEH
Ibnu Umar ra berpendapat bahwa sedekah / infak pada ayat di atas mencakup sedekah/ infaq wajib dan sedekah tathowu’ ( yang tidak wajib ) .
Tetapi, menurut hemat saya, infak atau sedekah di atas
mencakup seluruh amal sholeh yang bermanfaat bagi orang lain, seperti
membantu orang yang kesusahan, dl, . Pendapat ini dikuatkan dengan apa
yang disebutkan Ibnu Al Arabi di dalam Ahkam Al Qur’an ‘ bahwa sedekah
di atas meliputi seluruh amal perbuatan baik , kemudian beliau
mengatakan : « Inilah pendapat yang benar, karena ayat di atas bersifat
umum « [9]
Pendapat ini dikuatkan juga dengan sebuah hadist bahwasanya Rosulullah saw bersabda : « Setiap perbuatan baik yang bermanfaat bagi orang lain adalah sedekah « . [10]
Diantara contoh- contoh sedekah yang berupa amal sholeh yang bermanfaat bagi orang lain adalah sebagai berikut :
- Bertasbih , bertakbir , bertahmid dan bertahlil – Para ulama menyebutkan bahwa amalan di atas disebut sedekah karena pahala orang yang mengerjakannya sebagaimana pahala orang yang bersedekah, atau karena amalan tersebut membuatnya bersedkah pada dirinya sendiri. [11]
- Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar – Setiap kali seseorang berbuat Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar ,maka dihitung satu sedekah. Amalan ini jauh lebih mulia dan lebih utama , serta pahalanya lebih banyak dibanding dengan amalan yang pertama, karena yang pertama ( tasbih dst ) hukumnya sunnah sedangkan yang kedua ( amar ma’ruf dst ) hukumnya fardhu kifayah dan kadang berubah menjadi fardhu ‘ain. Sebagaimana telah diketahui bahwa pahala amalan wajib jauh lebih besar dibanding dengan pahala amalan yang sunnah. Bahkan Imam Haramain , salah seorang ulama besar dari kalangan Madzhab Syafi’i mengatakan : « Pahala amalan wajib lebih utama sebanyak tujuh puluh ( 70 ) derajat diatas amalan sunnah«.[12] Beliau merujuk pada hadist Qudsi bahwasanya Allah swt berfirman : « Tidak ada dari amalan hamba-Ku yang lebih Aku cintai dari pada amalan yang Aku wajibkan kepada-nya « [13]Selain itu Amar Ma’ruf Nahi mungkar manfaatnya bisa dirasakan orang banyak sedangkan tasbih dan tahmid manfaatnya hanya dirasakan dirinya sendiri.
- Menyalurkan Syahwatnya pada tempat yang halal. – Para ulama menyebutkan bahwa hal-hal yang mubah bisa berubah menjadi sebuah ibadah dan ketaatan hanya dengan niat yang baik. Jika seseorang menyalurkan syahwatnya pada tempat yang halal dan berniat melaksanakanperintah Allah untuk menggauliistrinya dengan baik, atau mengharap anak yang sholeh, atau untuk menjaga dirinya dan istrinya dari perbuatan haram, maka terhitung ibadah yang mendapatkan pahala dari Allah swt. [14]
- Beristighfar
- Menyingkirkan batu atau duri atau hal-hal lain yang membahayakan orang lain dari jalan.
- Membantu orang yang kesusahan.
- Tidak mengerjakan maksiat atau kejahatan.
- Membantu orang lain mengangkat barang ke atas kuda atau mobil.
- Berbicara baik dan sopan.
- Berjalan menuju masjid . [15]
( 5 ) SIKAP PARA SAHABAT DAN ORANG-ORANG SHOLEH TERHADAP AYAT DI ATAS
Para sahabat dan orang-orang sholeh menafsirkan ayat di atas secara dhohir-nya ( apa adanya ) kemudian mengamalkannya.[16] Berikut ini beberapa contoh dari sikap tersebut :
1/ Abu Tolhah.
Menurut Anas bin Malik ra bahwa Abu Tolhah ra adalah orang
Anshor yang paling banyak memilki pohon kurma di Madinah. Harta yang
paling ia sukai adalah perkebunan “ Bairuha’ “ [17] yang letaknya di depan Masjid Nabawi. Nabi Muhammad saw sering masuk ke dalamnya sambil minum air yang terdapat di dalamnya.
Ketika ayat di atas turun, Abu Tolhah datang kepada
Rosulullah saw seraya berkata : “ Sesungguhnya harta yang paling aku
cintai adalah perkebunan “ Bairuha’ “ ini , dan saya sedekahkan
untuk Allah, saya mengharapkan kebaikannya di sisi Allah, maka silahkan
wahai Rosulllah engkau letakkan pada tempat yang engkau pandang sesuai.
Berkata Rosulullah saw : “ Bakhin-bakhin[18]
( Bagus-bagus ) … inilah harta yang membawa keuntungan, inilah harta
yang membawa keuntungan, dan saya telah mendengarnya, sebaiknya engkau
berikan kepada saudara-saudara kamu “ .
Berkata Abu Tolhah : Akan saya laksanakan hal itu wahai
Rosulullah saw . Kemudian Abu Tolhah membagikan taman tersebut kepada
pra sanak saudanya. “[19]
2/ Zaid bin Haritsah.
Pada suatu hari, Zaid bin Haritsah ra datang kepada Rosulullah dengan kuda perangnya yang bernama “ sabal “ ( kuda ini adalah harta yang paling dicintai-nya ) .
Zaid berkata : Wahai Rosulullah saw, sedekah-kanlah kuda ini .
Tetapi secara tidak disangka Rosulullah saw memberikan kuda tersebut
kepada anak-nya ( Zaid ) sendiri yaitu Usmah bin Zaid. Melihat hal
tersebut, Zaid bertanya : “ Wahai Rosulullah saw, maksud saya, agar kuda
tersebut disedekahkan . “ Bersabda Rosulullah saw : “ Sedekah kamu
telah diterima ( oleh Allah swt “ [20]
3/ Abdullah bin Umar
Berkata Abdullah bin Umar : “ Ketika saya teringat ayat ini,
saya berpikir tentang harta yang paling saya cintai dan ternyata saya
dapatkan bahwa tidak ada yang paling saya cintai dari seorang budak
wanita Romawi, kemudian segera saya bebaskan demi mencari ridha Allah,
seandainya aku ambil lagi sesuatu yang telah saya infakkan di jalan
Allah,tentunya budak tersebut akan aku nikahi. “ [21]
(6 ) SEDEKAH YANG PALING UTAMA
Sedekah yang paling utama adalah menginfakkan harta yang
paling dicintainya di jalan Allah, sebagaimana yang dikerjakan oleh para
sahabat di atas.
Berkata ‘Atho’ ( seorang ulama tabi’in ) : “ Kalian tidak
akan mendapatkan kemulian Islam dan Taqwa sehingga kalian bersedekah
dalam keadaan sehat , ingin hidup secara baik dan takut tertimpa
kemiskinan “ [22]
Perkataan Atho’ diatas menunjukkan bahwa fitrah manusia mencintai hal-hal yang membuatnya enak
( 7) HUKUM ORANG MISKIN YANG TIDAK PERNAH BERINFAK
Timbul sebuah pertanyaan : Bagaimana nasib orang miskin yang
tidak mampu berinfak , apakah dia tidak akan menjadi orang baik
selama-lamanya menurut ayat ini ? Di sana ada beberapa jawaban :
1/ Ayat di atas bermaksud untuk mendorong seseorang agar
berbuat baik dan itupun menurut kemampuannya masing-masing ,karena Allah
tidak akan membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya.
2/Ataupun arti ayat di atas bahwa seseorang tidak akan
mendapatkan kebaikan secara lebih sempurna kecuali kalau dia
meng-infakkan apa yang dimilikinya. [23]
Oleh karena itu, seorang yang miskin atau fakir tidak akan mendapatkan
kebaikan yang sempurna tersebut sehingga dia menginfakkan apa yang ia
cintai. Bukankah sedekah yang paling utama adalah sedekahnya orang yang
hidupnya kekurangan ? [24]
3/ Ataupun artinya bahwa infak yang baik adalah infak terhadap apa yang ia cintai. [25]
( 8 ) PERBANDINGAN ANTARA ORANG YANG MISKIN SABAR DENGAN ORANG KAYA YANG BERSYUKUR
Para ulama berselisih pendapat tentang masalah ini. Akan
tetapi jika dibandingkan antara seorang miskin yang taat dengan orang
kaya yang maksiat tentunya, orang miskin terssebut jauh lebih utama,
sebaliknya pula antara orang kaya yang taat dengan orang miskin yang
senang dengan dunia,tentaunya orang kaya tersebut jauh lebih utama.
Jika kedua-duanya sama-sama taat kepada Allah swt, maka
manakah yang lebih mulia. Untuk menjawabnya, kita harus terlebih dahulu
mengetahui standar keutamaan antara keduanya.
Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia diciptakan di dunia
ini untuk beribadah kepada Allah swt. Di dalam beribadah ini banyak
segala gangguan dan halangannya, diantara gangguan yang paling menyolok
adalah terikatnya hati dengan dunia dengan segala kesenangannya. Begitu
juga kemiskinan bukanlah tujuan utama, hanya karena gangguan dan
halangan menuju Allah jauh lebih kecil jika dibanding dengan orang yang
memiliki dunia. [26]
( 9 ) HUKUM SEDEKAH KEPADA SANAK KELUARGA
Sedekah dibagi menjadi dua : sedekah tathowu’ ( yang
tidak wajib ) dan sedekah wajib . Untuk sedekah tathowu’, para ulama
menyimpulkan dari kisah Abu Tolhah dan Zaid bin Haritsah di atas, bahwa
seseorang dibolehkan, bahkan dianjurkan untuk bersedekah kepada sanak
saudara yang membutuhkan[27]. Sedekah kepada sanak saudara ini , paling tidak mempunyai dua keistimawaan :
1/
Sedekah tersebut bisa menguatkan jalinan silaturahmi diantara keluarga.
Karena manusia akan merasa senang jika ada seseorang yang membantunya
untuk di dalam memnuhi kebutuhannya, apalagi yang membantu tersebut
adalah dkeluarga dekatnya. Dia akan merasa bangga mempunyai keluarga
yang mau memperhatikan satu dengan yang lainnya. Jelas hal ini akan
menguatkan hubungan antar keluarga.
2/ Begitu juga, perasaan orang yang menginfakkan akan lebih
tenang dan merasa senang, karena dia mampu membantu saudaranya yang
membutuhkan. Dia juga merasa tenang karena sedekahnya telah diterima
oleh orang yang berhak menerimanya. Di dalam sebuah hadits disebutkan
bahwa dua wanita yaitu Zainab istri Abdullah bin Mas’ud dan Zainab istri
Abu Mas’ud bertanya kepada Rosulullah saw tentang sedekah kepada suami
dan anak . Rosulullah saw bersabda : “ Keduanya mempunyai dua pahala ; pahala menjalin silatrahmi, dan pahala sedekah “ [28]
Adapun sedekah wajib, para ulama telah sepakat bahwa hal itu
tidak boleh diberikan kepada orang yang menjadi tanggungannya, seperti
anak dan istri.
Kenapa tidak boleh ? Banyak alasannya, diantaranya adalah :
1/ Dengan mengambil sedekah wajib dari orang yang menanggungnya , mereka
( anak dan istri ) menjadi orang yang berkecukupan, dengan demikian,
tidaklah perlu mereka diberi nafakah lagi .
2/ Mereka ( anak dan istri ) sudah cukup dengan nafakah yang
diberikan suami atau orang tua mereka, sehingga tidak berhak lagi
mendapatkan harta sedekah, karena harta sedekah ( wajib ) hanya
diberikan kepada orag-orang yang membutuhkan. [29]
Jika ada pertanyaan : bagaimana hukum seorang istri memberikan sedekah wajib kepada suami dan anak ?
Jawabannya : bahwa para ulama dalam hal ini masih berselisih
pendapat , akan tetapi pendapat yang lebih mendekati kebenaran bahwa hal
itu dibolehkan, karena seorang istri tidak berkewajiban memberikan
nafkah kepada suami dan anaknya [30] , selain itu dikuatkan juga dengan hadits Zaenab istri Abdullah bin Mas’ud di atas.
Dari situ juga bisa diambil kesimpulan bahwa seorang istri
jika ingin meninfakkan hartanya tidak perlu ijin kepada suaminya, karena
hartanya merupakan haknya pribadi. [31]
Hadist di atas juga menunjukkan bahwa seseorang sebelum
bersedekah dianjurkan untuk meminta pendapat para ulama dan tokoh
masyarakat tentang bagaimana menaruh sedekah dan yang terkait dengannya.
[32]
(10 ) BERINFAK SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI
Secara umum, bersedekah secara sembunyi-sembunyi jauh lebih
utama jika dibanding dengan sedekah secara terang-terangan, kecuali jika
disana ada maslahat yang menuntut seseorang untuk memperlihatkan
sedekahnya kepada orang lain, seperti memberikan contoh yang baik kepada
masyarakat dan lain-lainnya. Karena sedekah secara sembunyi-sembunyi
lebih dekat kepada keikhlasan .
Pada akhir ayat 92 surat Ali Imran di atas , secara tidak
langsung Allah menganjurkan seseorang untuk mengikhlaskan niatnya ketika
bersedekah. Allah berfirman : “ Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya “ yaitu
walaupun manusia tidak mengetahui bahwa kalian telah bersedekah, akan
tetapi Allah mengetahuinya, maka jangan cemas, niscaya Allah akan
membalas apa yang telah kalian sedekahkan .
Sebagian ulama menjelaskan bahwa jika itu sedekah wajib,
sebaiknya dinampakkan, untuk menghindari tuduhan jelek. Tetapi jika itu
adalah sedekah tathowu’ ( tidak wajib ) , maka sebaiknya diberikan
secara sembunyi- sembunyi.
Berkata Ibnu Abbas : “ Allah menjadikan pahala sedekah tathowu’ (
yang tidak wajib ) yang diberikan secara sembunyi-sembunyi sebanyak 70
kali lipat , dan menjadikan pahala sedekah wajib yang diberikan secara
terang-terangan sebanyak 25 kali lipat dibandingyangdiberikan secar
sembunyi-sembunyi. Begitu juga halnya dengan seluruh ibadat wajib dan
yang tidak wajib . “ [33]
( 11 ) SEDEKAH MAMPU MENGOBATI BERBAGAI PENYAKIT
Diantara faedah dari sedekah adalah menyembuhkan penyakit,
sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits, bahwasanya Rosulullah saw
bersabda :
داووا مرضاكم بالصدقة
داووا مرضاكم بالصدقة
“ Obatilah orang –orang yang sakit dari kalian dengan memberikan sedekah “ [34]
Penyakit yang dimaksud di dalam hadist tersebut adalah
penyakit badan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan hadist tersebut
mencakup penyakit badan dan penyakit hati. Karena seseorang yang selalu
bersedekah dengan harta yang dicintainya, hatinya akan menjadi bersih
dan tenang. Banyak bukti di dalam kehidupan disekitar kita yang
menunjukkan kebenaran hadist di atas :
1/ Diriwayatkan dari Abdullah bin Mubarak bahwa seseorang
mengadu kepadanya tentang penyakit yang ia rasakan di kedua lutut
kakinya, sudah tujuh tahun dia berobat ke dokter-dokter, akan tetapi
tidak ada perubahan. Abdullah bin Mubarak berkata kepadanya : “ Pergilah
dan buatlah sebuah sumur, karena masyarakat sangat membutuhkannya, dan
saya berharap sumur trsebut banyak airnya dan penyakit anda bisa
sembuh.” Kemudian orang tersebut mengikuti perintah Abdullah bin
Mubarak, dan tidak lama pula, akhirnya penyakitnya sembuh. [35]
2/Prof Dr H Biran punya pengalaman. Ia mempunyai seorang
pasien yang kaya raya. Keluhannya selalu merasa gelisah dan sakit perut.
Sudah diperiksa secara medis, namun tidak ada kelainan. Akhirnya pada
suatu waktu ketika sang pasien itu datang berkonsultasi lagi, Dr Biran
bertanya: “Maaf pak, berapa kali bapak bersedekah dalam setiap minggu?”
Mendapat pertanyaan yang tidak lajim ini sang pasien merasa bingung dan
menjawab: “Kekayaan, saya peroleh dengan kerja keras dan susah payah.
Kalau saya berikan pada orang lain, harta saya jelas akan berkurang. Dan
kalau saya berikan pada satu orang, pasti peminta yang lain datang
lagi.’
Setelah Dr Biran memberikan ” tausiah ” singkatnya mengenai
fadhilah sedekah maka ia berkata: “Untuk kali ini saya tidak memberi
resep, tapi coba bapak ikuti nasehat saya tadi.” Karena ingin sembuh,
maka walaupun dengan hati berat karena belum terbiasa, si pasien itu
mencoba mengikuti advis sang dokter. Aneh tapi nyata. Setiap selesai ia
mengeluarkan sedekah, ada perasaan lega dan tenteram dalam hatinya.
Pelan-pelan tapi pasti, maka bukan setiap minggu tapi setiap hari dia
bersedekah. Sejalan dengan kebiasaan barunya itu, maka keluhannya kian
berkurang akhirnya lenyap sama sekali .
3/Dua orang anak Rudi Hartono, maestreo bulu tangkis dunia,
menderita lumpuh. Sudah berulang-ulang membawanya berobat kepada para
medis kenamaan di Jakarta, namun tidak kunjung sembuh. Atas advis
seorang ahli agama, Juara All England delapan kali ini, dianjurkan untuk
sering menderma atau membantu para fakir miskin dan mereka yang
memerlukan. Saran ini ia turuti. Sejak saat itu setiap bulan ia
menyumbang dua setengah juta rupiah. Diluar dugaan, kedua anaknya sembuh
total.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar